logo

SERABUT

Profile Organisasi
Detail Artikel
Merawat Denyut Tani di Bawah Terik Kemarau
Opini

Informasi Artikel

Sudah cukup lama masyarakat Desa Rejosari memanfaatkan sungai-sungai kecil di pinggiran desa untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan ladang mereka. Setiap memasuki kemarau panjang seperti saat ini, ada 645 jiwa atau 179 kepala keluarga berjuang mendapatkan air bersih untuk kebutuhan air minum, memasak, mandi, mencuci, atau untuk menyiram tanaman di ladang.

Di pagi sekali, di saat matahari belum benar-benar naik dari balik bukit Desa Rejosari, Budiman (67 tahun) sudah bersiap untuk mengambil air demi keperluan hari-harinya. Ia bergegas mengumpulkan jerigen-jerigen kecil dan berjalan kaki menyusuri tanah dan berbatu yang jaraknya kurang lebih 2 kilometer untuk sampai ke sungai kecil di pinggir hutan Lasalimu.

Tandon Air bantuan PAMSIMAS Tahun 2020. Dok: yadilaode
Desa Rejosari hanyalah satu dari beberapa desa yang ada di Kecamatan Lasalimu Selatan, Kabupaten Buton yang kondisinya memprihatinkan saat kemarau tiba, dari tahun ke tahun. Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) yang dikelola Kementerian Pekerjaan Umum pernah hadir di tahun 2020. Sayangnya bantuan itu usianya tidak panjang. Saat bangunan infrastrukturnya masih begitu basah, sumber air yang mereka sediakan sudah kering. Banyak warga yang belum merasakan manfaat dari hadirnya program. Terdapat beberapa sarana infrastruktur yang telah dibangun, seperti tower air setinggi 3,5 meter di tengah pemukiman, tandon air, instalasi perpipaan, serta mesin dan sumur bor. Pada akhirnya semua fasilitas itu tidak berfungsi.

Air memang sangat penting bagi kehidupan. Namun bagi masyarakat desa Rejosari saat musim kemarau panjang melanda, air menjadi pertaruhan untuk bertahan hidup. Air tak hanya untuk kebutuhan sanitasi, tetapi sejauh mana tanaman pangan di lahan-lahan mereka bisa bertahan di tengah kekeringan seperti saat ini. 

Menurut Budiman, rata-rata masyarakat Desa Rejosari adalah petani ladang yang selalu mengunggulkan komoditas padi tadah hujan, kelapa, kopi, dan nilam untuk menunjang ekonomi rumah tangga mereka. Jenis tanaman seperti ini sangat bergantung dengan ketersediaan air dan sangat rentan dengan kekeringan. 

Tanah di ladang mulai kering dan retak, petani kesulitan mencari sumber air untuk menyiram tanaman mereka. Beberapa lahan petani terlihat tanamannya mulai kering dan banyak yang mati, seperti tanaman padi dan nilam. Sumur dan kolam yang mereka buat tampak mengering. Sungai-sungai kecil yang tidak jauh dari ladang mereka juga sudah tak dialiri air. 

"Beginilah nasib kami setiap tahun kalau sudah masuk musim kemarau. Kita harus berjuang untuk dapat air. Untuk kebutuhan minum, kami terpaksa harus beli air galon, harganya 10.000 ribu, cukup mahal bagi kami. Untuk mandi dan lain-lain, kami harus ke desa tetangga, jaraknya lumayan jauh untuk bolak-balik pikul jerigen," ujar Budiman yang tengah bersiap untuk mengambil air.

Air tidak mengalir dari keran salah satu Mushala di Desa Rejosari. Dok: yadilaode
Sudah sebulan lamanya kemarau melanda masyarakat Desa Rejosari. Belum ada sama sekali tanda-tanda hujan akan turun. Para petani terpaksa harus mengalokasikan banyak waktu untuk bekerja di luar rumah. Para ibu dan anak-anak berbagi peran untuk mengambil air dengan berjalan kaki yang jaraknya beberapa kilo untuk sampai ke sungai dan ke desa lain hanya untuk mengambil air. Banyak waktu produktif mereka yang terbuang, yang semestinya bisa dimanfaatkan untuk mengolah ladang, beristrahat, atau sekedar berkumpul bersama keluarga.  

Mestinya ini menjadi catatan penting bagi para pemangku kepentingan, baik di level desa, daerah maupun pemerintah pusat. Bahwa setiap proyek apapun yang diberikan kepada masyarakat perlu dikaji secara matang dan implementasinya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Sebagaimana program PAMSIMAS yang sudah terlanjur masuk di desa, ini perlu segera ditinjau dan di evaluasi secara menyeluruh agar pembangunannya tidak sia-sia. 

Langkah lain yang perlu dilakukan secara bersama adalah adanya kesiap-siagaan (mitigasi) sebelum memasuki kemarau panjang. Perlu ada kesadaran kolektif dan adanya dukungan berbagai pihak untuk benar-benar hadir demi menjaga ekosistem hutan serta kawasan tangkapan air yang diharap bisa memenuhi kebutuhan air setiap desa. Sehingga sepanjang apapun kemarau yang dilewati, sumber air di lahan-lahan pertanian tak akan pernah kering. Sebagaimana semangat petani-petani kita, mereka tak akan pernah henti merawat denyut nadi pertanian, demi masa depan generasi dan demi alam yang tetap lestari. 



Penulis: Rahmad Kurniawan
Editor: Yadi La Ode

Tentang Artikel

Judul

Merawat Denyut Tani di Bawah Terik Kemarau

Tahun Publikasi

2026